Menjadi Sastrawan Ulung Ala Gus Mus

Telah menjadi rahasia umum bahwa Gus Mus termasuk salah satu penyair kenamaan Indonesia. Namanya telah harum dikalangan sastrawan dengan berbagai karya fenomenal sebagai penyair, sekaligus budayawan. Tak dapat dipungkiri, beliau telah melahirkan begitu banyak karya, di antaranya Ensiklopedia Ijma' (1987); Tadarus, Antologi Puisi (1993); Mutiara-mutiara Benjol (1994); Rubaiyat Angin dan Rumput (1995); Pahlawan dan Tikus (1996); dan masih banyak lagi. 

Disamping menghasilkan beragam buku karena produktivitas menulisnya, Gus Mus juga mahir dalam menerjemahkan kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Tak mengherankan jika beliau dapat memahami dan menguasai sastra Arab, bukan sekedar terjemahannya saja. Bersama dengan saudaranya, KH. Misbach Mustofa, Gus Mus berinisiatif mengadakan kepenulisan dengan para santri di pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1983, dimana kemampuan menulis yang dimiliki oleh rata-rata santri masih tergolong rendah (gusmus.net, 04/02/2021).

Sebenarnya, rasa ketertarikan Gus Mus terhadap dunia sastra telah timbul sejak masa kanak-kanak. Sehingga, bukan perkara yang mengejutkan jika tulisan beliau pernah dipublikasikan oleh media massa Kompas (Kompas Minggu 9 Januair 1972), saat usianya masih remaja. Pentas baca puisi yang beliau ikuti pada 1980 juga menuai decak kagum dari audien, yang menjadikan Gus Mus dikategorikan sebagai bintang baru dalam dunia kepenyairan Indonesia. 

Kiprah Gus Mus dalam bidang sastra mengantarkannya memperoleh berbagai penghargaan yang mengharumkan nama bangsa. Menerima penghargaan Anugrah Sastra Asia dari Majelis Sastra Malaysia pada 2005, turut membuktikan dedikasinya yang tinggi dibidang ini. Beliau sering kali menerima undangan dari berbagai negara untuk menghadiri perhelatan puisi, seperti di Baghdad dan Jerman. Bahkan, sajak-sajak ciptaan Gus Mus juga terpasang rapi di ruangan kampus Universitas Hamburg, Jerman. 

Dalam mengaplikasikan sajak-sajak ciptaannya, Gus Mus sengaja memasukkan sajak tersebut saat beliau tengah berdakwah, dibalut dengan menyampaikan berbagai kejadian sosial. Harapan Gus Mus saat melakukan metode dakwah ini ialah audien dapat melakukan komunikasi dua arah dengan beliau, sehingga mampu meningkatkan pemahaman mengenai agama, diri sendiri, dan lingkungan sosial. 

Di sisi lain, Gus Mus menghadirkan konsep yang bernama MataAir, dimana konsep ini berperan sebagai media alternatif yang memberikan informasi objektif selama masa Orde Baru berakhir, yakni pada tahun 1998. Meskipun pada awalnya konsep ini belum mewujudkan seluruh keinginan Gus Mus, tetapi MataAir telah berusaha menghadirkan berita objektif sebagai respon dari kebebasan pers yang tidak terkendali pada 1998. Motto yang Gus Mus gunakan dalam membangun MataAir ialah, "Menyembah yang Maha Esa, Menghormati yang Lebih Tua, Menyayangi yang Lebih Muda, dan Mengasihi Sesama." 

Kiprah Membanggakan dalam Berbagai Bidang 

Selesai mengulik perjalanan sastranya, membahas mengenai kehidupan Gus Mus memang tak pernah ada habisnya. Beragam kepiawaian beliau sering kali membuat rasa kagum pada siapa saja yang membaca teks biografi tokoh kharismatik ini. Terlebih, petuah-petuah penyejuk kalbu juga sering kali beliau sampaikan saat mengisi kajian keagamaan. 

Ahmad Mustafa Bisri atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Mus termasuk salah satu tokoh ikonik Islam di Rembang. Lahir ditengah keluarga dengan intelektualitas yang tinggi, ternyata turut memberikan pengaruh dalam kehidupan Gus Mus. Terbukti dengan beliau yang turut mengambil peran sebagai pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin yang didirikan oleh kakeknya, KH. Zaenal Mustofa. Tak hanya itu, tokoh fenomenal yang akan berusia 77 tahun pada 2021 ini juga pernah berkecimpung dalam dunia perpolitikan. 


Mengutip dari gusmus.net (04/02/2021), Gus Mus diketahui pernah menjabat sebagai anggota DPRD Jawa Tengah pada 1982-1992 dan Anggota MPR RI pada 1992-1997. Disamping itu, Gus Mus termasuk salah seorang pendeklarasi dari terbentuknya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sekaligus sebagai pencetus logo PKB saat ini. Prestasi membanggakan lainnya, Gus Mus pernah menjabat sebagai Rais Aam Syuriah Nahdlatul Ulama pada 2014-2015. 

Tak berhenti disitu, Gus Mus juga diberikan gelar sebagai Doktor Honoris Causa dalam bidang Kebudayaan Islam oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2009 lalu. Pemberian gelar tersebut dipimpin secara langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Amin Abdullah. Bahkan, Presiden Joko Widodo turut serta memberikan apresiasi kepada Gus Mus berupa Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma. Peristiwa membanggakan ini berlangsung pada 13 Agustus 2015 di Istana Negara. 

Mengagumkan sekali bukan tokoh sastrawan asal Kota Garam ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adakah Alasan untuk Saya Tidak Beragama?