Adakah Alasan untuk Saya Tidak Beragama?
"Kenapa kita ada di sini (hidup di dunia)? Karena kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup yang singkat ini."
Salah satu kutipan terkenal dari mendiang Presiden ketiga Republik Indonesia, B.J. Habibie, mengingatkan saya mengenai tujuan utama manusia diciptakan dimuka bumi, yaitu untuk menyembah-Nya.
Menurut kepercayaan yang saya yakini, dalam Surah Adz- Dzariyat ayat 56, Tuhan dengan tegas menyebutkan bahwa tugas manusia dan jin adalah menyembah-Nya.
Saya memiliki agama karena garis keturunan. Faktor lingkungan sosial dan keluarga menjadi penentu agama yang saya yakini. Seiring berjalannya waktu, saya mulai berpikir mengenai hakikat beragama yang sebenarnya. Mulai dari proses belajar, pergaulan sosial, maupun bertambahnya usia, semakin mendorong saya untuk mengetahui alasan rasional untuk menyembah Tuhan.
Seperti halnya saat manusia berdoa. Menurut buku Agama Punya Seribu Nyawa karangan Prof. Komaruddin Hidayat, terdapat beberapa alasan psikologis yang melatar belakangi manusia melakukan ritual ibadah tersebut.
Pertama, adanya rasa takut melihat dirinya yang terlalu lemah, jika dibandingkan dengan kemegahan alam semesta. Rasa takut tersebut menimbulkan dorongan untuk memohon pertolongan dan perlindungan kepada Sang Pencipta semesta. Kedua, manusia berdoa karena meyakini bahwa Tuhan itu ada. Doa tersebut mewujudkan rasa kagum terhadap kesempurnaan alam semesta ini. Mereka merasa alam semesta telah mampu memenuhi kebutuhannya.
Dari sinilah muncul rasa kekaguman yang diekspresikan melalui puja-puji dan doa kepada pencipta semesta. Sehingga, penalaran logis mulai mereka lakukan. Adanya kemegahan alam semesta, tentu memiliki pencipta yang maha sempurna. Edwin Hubble, pada 1992 mengemukakan teori Big Bang (ledakan besar) yang menjelaskan terbentuknya alam semesta termasuk bumi dan isinya karena adanya ledakan besar. Bukti nyata dari teori ini adalah keberadaan unsur Helium dan Hidrogen dalam alam semesta. Dari teori ini memunculkan pemikiran, jika alam semesta memiliki permulaan, pasti terdapat penciptanya, Tuhan. (Republika.co.id, 07/03/2012)
Seorang filusuf Ibn Tufail dalam karyanya Hayy bin Yaqdhan, menyebutkan jika melakukan pengamatan terhadap alam mampu menumbuhkan keyakinan terhadap Tuhan. Hal ini karena ajaran dan tradisi keagamaan sangat dekat terhadap pengamatan alam sekitar. Seperti tradisi agama Hindu, Buddha, Tao, maupun agama lokal yang berkembang dimasyarakat terdahulu. Sehingga, para filusuf meyakini bahwa Tuhan tidak berdasarkan kitab suci, namun melalui refleksi dan kontemplasi (renungan yang mendalam). Hal seperti ini pernah terjadi pada Nabi Muhammad SAW saat melakukan perenungan di Gua Hira. Beliau melakukan kontemplasi yang mendalam, sebelum akhirnya mendapatkan wahyu.
Dunia pasti berakhir
"Dan milik Allah lah apa yang ada di langit dan di bumi, dan kepada-Nya dikembalikan segala urusan." (Q.S. Ali Imran: 3/109)
Menurut firman Tuhan diatas, dunia pasti berakhir. Entah itu masih lama atau sebentar lagi, semua masih menjadi misteri-Nya. Dalam hal ini, kita dapat berfilsafat pada pohon. Pohon yang saat ini berbuah ranum dan berbatang kokoh, bisa saja 30 tahun kemudian buah yang dihasilkan tidaklah seproduktif sekarang. Batang pohonnya pun perlahan mengering, karena terpapar panasnya sinar matahari. Lambat laun, pohon tersebut akan mati dan tidak menghasilkan apa pun.
Sama seperti keadaan yang dialami oleh semesta. Keindahan nirwana yang dulu disajikan, perlahan mulai mengalami kerusakan karena campur tangan manusia maupun alam. Misalnya, dampak yang dihasilkan dari erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta 2006 lalu. Dilansir dari kumparan.com (31/07/2019), erupsi ini menghasilkan aliran piroklastik, yang terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan bebatuan atau tefra. Aliran ini bergerak menuruni gunung dengan kecepatan 700 km per jam. Gas panas yang dihasilkan dapat mencapai suhu 1.000 derajat celsius yang meluncur dengan kecepatan tinggi. Akibat dari fenomena ini, kebakaran yang menghanguskan vegetasi terjadi disekitar tempat kejadian.
Selain itu, dampak yang dihasilkan dari erupsi gunung berapi adalah meledaknya gas karbondioksida (CO2). CO2 ini mampu mengakibatkan perubahan iklim dan menimbulkan efek rumah kaca yang berbahaya bagi lapisan ozon. Lapisan ozon semakin menipis sebagai dampak dari panasnya cuaca yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik industri. Hal ini tentu memperparah keadaan semesta yang semakin mengkhawatirkan kelestariannya.
Dilihat dari fenomena kerusakan alam yang semakin mengenaskan, tentu akan tiba masanya dunia berakhir. Namun tidak diketahui dimana, kapan, dan bagaimana. Karena fenomena itu tidaklah penting. Sebab, keadaan terpenting adalah bagaimana cara Tuhan memanggil kita, apakah kita masih berlumuran dosa atau kita telah mensucikan-Nya.
Kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan awal dari keabadian alam akhirat. Setiap agama tentu mempunyai konsep yang berbeda mengenai suargaloka dan neraka. Menurut kepercayaan yang saya yakini, sekecil apapun perbuatan tentu memiliki balasan. Atas welas asih-Nya, manusia yang melakukan amal kebajikan tentu memperoleh balasan yang sesuai dengan perbuatannya semasa hidup. Sebaliknya, Tuhan akan menghukum manusia ke dalam panasnya api neraka, sesuai apa yang mereka kerjakan semasa hidupnya.
Edward Dutton dan Dimitri Van der Linden dalam sebuah artikel di Evolutionary Psychological Science jurnal Spinger mengemukakan bahwa agama dan kecerdasan memilki sifat yang berbanding terbalik. Agama dianggap sebagai naluri yang terpisah, sementara kecerdasan memungkinkan manusia untuk melampaui nalurinya. Kemampuan melampaui naluri sangat menguntungkan, karena mampu membantu manusia memecahkan masalah.
Sebenarnya, masyarakat barat modern meyakini akan keberadaan Tuhan dan kehidupan akhirat. Sayangnya, mereka tidak mau terikat pada ajaran formal agama. Mereka berbuat baik semata-mata hanya karena dorongan hati nurani.
Komentar
Posting Komentar